Mengolah jantung pisang menjadi Sei daging analog, mahasiswa Food Technology berhasil mengukir prestasi

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia di tahun 2021, Universitas Ahmad Dahlan kembali menyelenggarakan FOODFEST.HMTP – Business Plan Competition yang berlangsung pada bulan September-Oktober lalu. Adapun tema yang diangkat dalam kompetisi Business Plan di tahun ini adalah “Building a Creative and Innovative Young Entrepreneurial Mindset to Development the Economy After Covid-19”. Business plan competition sebagai rangkaian acara Food festival 2021 yang diselenggarakan oleh Departemen Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ahmad Dahlan dalam rangka untuk memfasilitasi dan menjembatani mahasiswa seluruh Indonesia agar dapat mengembangkan kreativitas sebagai wirausaha muda dengan basis teknologi. Pada kesempatan ini, Food Technology BINUS University turut berpartisipasi mengirimkan satu tim perwakilan yang terdiri dari Vedra Febrylighia, Almira Khalishah, dan Jesstika Anggreany Yendro dengan inovasi bisnis yang bernama “SeiHat”, yaitu Sei Daging Analog Jantung Pisang Tinggi Serat. Melalui ide bisnis “SeiHat” ini, tim SeiHat yang dibimbing oleh Bapak Bayu Meindrawan, S.Si., M.Si. berhasil meraih juara 2 dalam ajang Business Plan Competition pada event FOODFEST.HMTP 2021.

Berawal dari permasalahan akan tingginya kandungan lemak dan kolesterol pada daging sementara permintaan akan kuliner daging olahan yang justru semakin meningkat, serta ditambah dengan trend pola hidup sehat yang juga kian meningkat, ketiga anggota tim “SeiHat” mencoba untuk membuat terobosan produk daging tiruan atau daging analog yang lebih menyehatkan dan dapat dijangkau oleh para vegetarian dengan memanfaatkan jantung pisang. Jantung pisang merupakan salah satu bagian dari komoditas pisang masih jarang dimanfaatkan. Jantung pisang merupakan bagian bunga dari tanaman pisang yang menjadi cikal bakal buah pisang. Menurut data yang didapat, produksi pisang mencapai 6,28 juta ton per tahunnya. Banyaknya keberadaan komoditas pisang di Indonesia tentunya menghasilkan jumlah jantung pisang yang cukup melimpah, yang mana jantung pisang ini biasanya menjadi bagian yang terbuang begitu saja. Melihat adanya potensi dari jantung pisang yang tersedia melimpah di Indonesia, terlebih teksturnya yang berserat sehingga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan daging analog yang memiliki tekstur yang hampir serupa dengan daging asli. Selain menghasilkan sei daging analog yang rendah lemak dan bebas kolesterol, penggunaan jantung pisang sebagai bahan baku utama daging analog juga bermanfaat memperkaya kandungan serat, sehingga SeiHat jauh lebih menyehatkan
dibandingkan produk sei daging hewani. SeiHat mengusung konsep makanan rice box berupa sei daging analog yang disajikan dengan nasi merah gurih daun jeruk, sayur daun papaya, dan sambal rica. Dalam satu kemasan SeiHat (230 gram) hanya mengandung sebesar 420 kalori, yang mana jauh lebih rendah dibandingkan kalori makanan rice box daging dengan komposisi sajian serupa yang umumnya mencapai sekitar 600-700 kalori. Harga satu box SeiHat terbilang dapat bersaing di pasaran, yaitu Rp 35.000.

Pembuatan SeiHat diawali dengan pembuatan daging analog dari jantung pisang, dimana jantung pisang melalui proses pembersihan dan perebusan, lalu dilanjutkan dengan pemerasan (pengeringan dari air sisa perebusan) dan penghancuran kasar untuk tetap mempertahankan tekstur serat dari jantung pisang yang selanjutnya dicampurkan dengan bumbu-bumbu (bumbu yang digunakan adalah bumbu non hewani seperti kaldu jamur), tepung tapioka, tepung terigu yang diuleni hingga sedikit kalis. Setelah itu, adonan daging analog dikukus dan diungkep. Setelah dikukus dan diungkep maka akan terbentuk tekstur dan warna adonan yang menyerupai daging asli, yang selanjutnya daging analog ini akan diiris tipis dan diasapkan atau dimasak menggunakan teflon untuk menghasilkan sei daging analog. Adapun pembuatan komponen nasi merah gurih daun jeruk yaitu diawali proses penumisan bawang putih dan daun jeruk yang kemudian ditambahkan dengan nasi merah masak serta ditambahkan kaldu jamur. Selanjutnya untuk komponen sayur daun pepaya, dibuat dengan tahap pembersihan daun pepaya yang kemudian direbus (ditambahkan garam) dan ditumis dengan penambahan bawang putih, bawang merah, irisan cabai rawit merah, kaldu jamur dan garam hingga matang. Komponen terakhir yaitu sambal rica dibuat dengan menghaluskan bahan-bahan seperti bawang putih, bawang merah, jahe, sereh, cabe merah, cabe rawit, sedikit minyak, garam, kaldu jamur dan kemudian dilanjutkan proses penumisan. Selanjutnya keempat komponen SeiHat dikemas dalam kemasan box berbahan kertas yang bersifat food grade dan eco-friendly. Kiranya melalui prestasi yang ditorehkan dari inovasi SeiHat ini dapat memotivasi para mahasiswa Food Technology untuk terus berinovasi dalam memunculkan temuan produk pangan yang lebih
menyehatkan, terlebih dengan memanfaatkan produk pangan lokal guna mengembangkan komoditas
bahan pangan lokal potensial. Jangan takut untuk berinovasi dan tetap semangat untuk berkarya!